Apa itu Debian?

Sebelum membahas lebih dalam tentang Debian, sebaiknya kita harus mengetahui pengertian dari Debian ini. Debian merupakan sistem operasi komputer yang tersusun dari paket-paket perangkat lunak yang dirilis sebagai perangkat lunak bebas dan terbuka dengan lisensi mayoritas General Public Licensi (GNU) dan lisensi perangkat lunak bebas lainnya. Nah, sedangkan fungsi dari debian adalah sebagai penyedia layanan (DNS server, Mail server, Proxy server, dan lainnya), pengatur proses jaringan (fungsi router, refeater, dan lainnya), dan juga berfungsi untuk melakukan troubleshooting dalam artian bisa mendeteksi kesalahan yang ada pada hardware, software, maupun network (jaringan). Lalubagaimana cara menginstal Debian ini?


Berikut adalah tutorialnya:

Tutorial Instal Debian Di Virtualbox

Sebelum melakukan install, kita membuat virtual machine debian dulu dengan mempersiapkan Laptop, Virtualbox, CD/DVD Linux Debian Squeeze. Berikut ini langkah-langkahnya :

  • Buka Virtual Box lalu klik New
  • Beri name, machine folder, type dan version, Virtualbox akan menyesuaikan type dan versi OS jika nama yang kita ketik sesuai dengan nama OS yang kita ketik. Sedangkan machine folder yaitu tempat folder kita menyimpan file debiannya
  • Selanjutnya kita akan Mengatur ukuran memori (RAM), virtual akan menentukan alokasi minimun dari virtual machine (OS) yang akan dibuat secara otomatis. Jika ingin menambahkan tambahkan secukupnya. Sebaiknya ukuran memori diatur seperti yang disarankan.
  • Kita akan membuat hardisk, pilih Buat hardisk virtual sekarang lalu klik buat.
  • Langkah selanjutnya yaitu pemilihan jenis extensi file dari hard disk virtual yang akan dibuat, sacara default extensi hard disk virtual pada virtualbox menggunakan format file VDI (Virtualbox Disk Image) sebagai penyimpanan hard disk virtual, memilih tipe berkas hard disk , Pilih VDI, lalu klik lanjut
  • Untuk penyimpanan pada hardisk fisik, pilih di alokaskan secara dinamik, lalu klik lanjut.
  • Tentukan kapasitas hard disk yang akan digunakan, virtualbox akan memberikan kapasitas minimum secara otomatis berdasarkan jenis sistem operasi. Pada debian 6 kapasitas minimum yang dibutuhkan agar dapat di install adalah 8 GB.
  • User Virtual box sudah dibuat.
  • Selanjutnya klik mulai, dan masukkan iso debian dengan cara, masuk ke setting klik gambar CD/DVD lalu cari iso file debian setelah itu klik OK
  • pilih berkas disk optik virtualnya. Setelah dipilih Klik OKE
  • Setelah itu kita akan masuk ke boot menu, pilih Install, kemudian ENTER.
  • Setelah tekan enter kita akan memilih bahasa untuk penginstallan sistem. Saya akan memilih bahasa indonesia. Lalu enter

Berikutnya pilih negara “Indonesia”. Tekan tombol “enter” untuk melanjutkan proses berikutnya.

  • Setelah proses diatas selesai, berikutnya pemilihan setingan keyboard. Dalam hal ini pilih “Inggris Amerika” dan lanjutkan dengan menekan tombol “enter” dan tunggu sampai proses selesai
  • Berikutnya akan muncul proses konfigurasi jaringan dengan menggunakan DHCP (pengaturan IP secara otomatis oleh server DHCP). Silahkan di “cancel” jika komputer yang anda gunakan tidak sedang terhubung ke jaringan yang menyediakan servis DHCP, atau biarkan proses ini selesai.
  • Berikutnya pilih “Configure network manually” untuk mengkonfigurasi IP address secara manual (statis) atau silahkan pilih “Retry network autoconfiguration” untuk merequest IP address dengan menggunakan servis dari DHCP Server (dalam hal ini pilih “konfigurasi jaringan secara manual” saja).
  • Kemudian masukkan IP Address yang akan digunakan (mis: 192.168.10.1).
  • Berikutnya, masukkan netmask seperti yang gambar dibawah ini.
  • Setelah memasukkan IP netmask, lanjutkan dengan memasukkan IP gerbang  yang ada pada jaringan anda. (IP gateway ini merupakan alamat dari IP address router)
  • Berikutnya masukkan IP address DNS. Dalam hal ini, anda boleh memasukkan IP address DNS lebih dari satu. Batas pengisian IP address DNS tersebut hanya bisa diisi sebanyak 3 IP DNS dan dipisahkan dengan menggunakan spasi
  • Proses berikutnya, silahkan anda masukkan “nama host” sesuai dengan hostname yang anda inginkan untuk sistem anda.
  • Langkah berikutnya anda diminta untuk memasukkan “nama domain”. Anda bisa memberikan nama domain berdasarkan domain yang anda inginkan.
  • Proses berikutnya, anda diminta untuk memasukkan password yang akan digunakan oleh pengguna tertinggi (superuser) yakni root. Demi keamanan sistem yang anda punya, usahakan password yang anda buat memiliki kombinasi yang unik dan bukan merupakan password yang mudah ditebak oleh orang lain.
  • Berikutnya, anda akan diminta untuk memasukkan ulang kata sandi root. Masukkan password yang sama seperti pada proses sebelumnya.
  • Setelah anda selesai membuat kata sandi root, berikutnya anda diminta untuk memasukkan nama lengkap seperti pada gambar dibawah ini.
  • Berikutnya masukkan user untuk pengguna biasa.
  • Setelah user untuk pengguna biasa dibuat, masukkan password untuk user masukkan password untuk pengguna biasa tersebut.
  • Ulangi sekali lagi password yang sama seperti sebelumnya anda memasukkan sebelumnya.
  • Jika user telah terbuat, tunggu sampai proses selesai. Langkah berikutnya anda akan diminta untuk memilih lokasi “zona waktu” sesuai dengan lokasi keberadaan anda dan tunggu sampai proses berikutnya selesai.
  • Setelah proses diatas selesai, berikutnya akan muncul tampilan partisi harddisk. Dalam hal ini kita akan melakukan pembagian harddisk secara manual.
  • Tahap selanjutnya adalah pemilihan harddisk yang akan dibagi untuk instalasi sistem (pada gambar dibawah, terdapat 1 harddisk yang terbaca oleh sistem). Pilih harddisk yang akan di partisi, kemudian tekan “enter” untuk proses berikutnya.
  • Dilanjutkan dengan memilih “Yes” untuk membuat partisi baru.
  • Berikutnya pilih, partisi yang kosong (RUANG KOSONG).
  • Berikutnya pilih “buat partisi baru” untuk memulai pembuatan partisi baru dari ruang hardisk yang dipilih tadi.
  • Proses berikutnya, akan muncul tampilan informasi besar dari ruang harddisk keseluruhan yang akan dipartisi untuk instalasi sistem.
  • Langkah berikutnya tentukan partisi swap terlebih dahulu untuk memudahkan proses pembagian harddisk. Partisi swap biasanya dibuat 2x dari kelipatan jumlah memory fisik (RAM). Jika memory yang anda gunakan sebesar 512 Mb, berarti partisi swap yang harus dibuat sejumlah 2 x 512 Mb = 1 Gb.
  • Berikutnya pilih tipe dari partisi swap. Dalam hal ini pilih tipe “Logikal” dan kemudian tekan tombol “enter” untuk melanjutkan ke proses berikutnya.
  • Setelah penentuan tipe partisi selesai, kemudian pilih “Awal” untuk memulai pembagian ruang harddisk yang akan dipartisi.
  • Berikutnya, masuk/pilih bagian “gunakan sebagai: …” dengan cara menekan tombol “enter” untuk menentukan format partisi swap (lihat contoh pada gambar dibawah ini, default format partisi yang terpilih adalah sistem berkas berjulnal Ext3).
  • Setelah masuk pada tampilah pemilihan format partisi seperti pada gambar dibawah ini, pilih format “ruang area” dan tekan tombol “enter” untuk melanjutkan keproses berikutnya.
  • Sehingga akan berubah pemilihan dari “sistem berkas berjulnal Ext3” menjadi “ruang swap”.
  • Langkah berikutnya, pilih “selesai menyusun partisi” seperti pada gambar dibawah ini untuk mengakhiri pembagian partisi untuk “swap”.
  • Setelah memilih “selesai menyusun partisi”, maka akan tampil seperti pada gambar dibawah ini yang menandakan partisi “swap” sudah selesai dibuat.
  • Langkah berikutnya, pilih ruang harddisk yang masih kosong (RUANG KOSONG) / ruang harddisk yang masih tersisa seperti pada gambar dibawah ini, kemudian tekan tombol “enter”.
  • Berikutnya lanjutkan dengan memilih menu “Buat partisi baru” untuk membuat partisi baru. Dalam hal ini, kita akan membuat partisi “root” (/) yang akan digunakan

untuk menyimpan inti dari file sistem operasi yang kita install.

  • Setelah memilih “Buat partisi baru”, maka anda akan dihadapkan lagi seperti pada tahap awal seperti pada gambar dibawah ini. Partisi berikutnya yang akan dibuat adalah partisi root. Partisi root yang akan dibuat memanfaatkan total keseluruhan dari sisa ruang harddisk yang ada. Hal ini dikarenakan partisi yang akan dibuat hanya terdiri dari 2 partisi saja, yakni partisi root dan partisi swap. Jadi, biarkan saja ukuran partisi tersebut dan lanjutkan ke proses berikutnya dengan memilih “Lanjutkan” atau tekan tombol “enter” untuk melanjutkan ke proses berikutnya.
  • Setelah itu, pilih tipe partisi “Primer” untuk partisi root yang akan dibuat.

Tunggu sampai proses selesai seperti pada gambar dibawah ini.

  • Karena format untuk partisi root ini adalah “sistem berkas jurnal Ext3”, maka kita tidak perlu mengatur lagi format tersebut karena sudah merupakan pilihan default pada saat kita melakukan partisi. Kita hanya tinggal mengaktifkan “Bootable flag” untuk keperluan booting awal.
  • Langkah berikutnya pilih “Bootable flag” dan tekan tombol “enter” untuk mengubah setingannya dari “off” menjadi “on” seperti pada gambar dibawah ini.

Setelah selesai proses diatas, akan menjadi seperti pada gambar dibawah ini.

  • Dilanjutkan dengan memilih “selesai menyusun partisi” untuk mengakhiri pembagian partisi root dan melanjutkan ke proses berikutnya.
  • Akan terlihat dua buah partisi yang sudah dibuat, yakni partisi swap dan partisi root (/). Langkah berikutnya lanjutkan proses instalasi dengan memilih menu “Finish partitioning and write changes to disk” untuk menyelesaikan proses pembagian partisi dan sekaligus untuk menulis ruang harddisk yang sudah dibagi.
  • Lanjutkan proses “write” dengan memilih “Yes”.

Dan tunggu sampai proses selesai.

  • Langkah berikutnya anda diminta untuk memindai (scanning) source/CD/DVD Linux Debian yang anda gunakan. Sebaiknya hal ini dilakukan untuk seluruh source/CD/DVD Linux Debian yang ada. Mengingat hal ini sangat penting dilakukan karena pada saat sistem membutuhkan paket untuk keperluan instalasi aplikasi-aplikasi berikutnya, sistem akan mudah mendeteksi keberadaan paket tersebut dalam repositori yang ada pada source/CD/DVD tersebut. Namun jika anda menggunakan media jaringan untuk proses instalasi aplikasi berikutnya, langkah ini bisa anda abaikan. Keluarkan source/CD/DVD Binary-1 dan masukkan source/CD/DVD binary-2, kemudian pilih “Yes”.

Tunggu sampai proses scanning source/CD/DVD Binary-2 selesai.

  • Langkah berikutnya, ganti/masukkan lagi source/CD/DVD berikutnya (Binary-3) dan pilih lagi “Yes” untuk melakukan pemindaian. Lakukan hal yang sama sampai source/CD/DVD Linux Debian yang terakhir. Namun jika anda selesai memindai source/CD/DVD terakhir, pilih menu “No” seperti pada gambar dibawah ini untuk melanjutkan proses berikutnya.

Dan kemudian tunggu sampai proses selesai.

  • Langkah berikutnya anda diminta untuk berpartisipasi dalam hal pengembangan distro Linux Debian. Hal ini merupakan kelebihan dari salah satu distro Linux yakni Debian. Selain opensource, kita juga di tawari untuk ikut membantu mengembangkan distro ini. Pilih “Yes” jika anda ingin ikut serta berpartisipasi dalam pengembangan atau pilih “No” jika anda tidak ingin ikut serta dalam hal ini.
  • Langkah berikutnya, matikan ceklist pada “Graphical desktop environment” dengan cara menekan tombol spasi pada keyboard seperti pada gambar dibawah ini. Hal ini dilakukan karena sistem operasi yang diinstall tidak menggunakan mode GUI (Graphical User Interface) melainkan menggunakan mode undertext untuk membangun server yang berbasis text. Kelebihan dengan menggunakan basis text, server akan lebih optimal dalam kinerjanya karena mode ini tidak begitu banyak membutuhkan space dan ruang memory. Namun, biarkan untuk menu “Standard system utilities” terceklist. Setelah itu lanjutkan dengan memilih menu “Continue”.
  • Langkah berikutnya, anda ditawari untuk menginstall “GRUB boot loader” untuk Master Boot Record (MBR). Pilih “Yes” untuk menginstall GRUB dan “No” untuk mengabaikannya. GRUB ini di rekomendasikan terinstall di sistem karena dapat mempermudah pada saat proses booting awal dan untuk keperluan lainnya seperti pada saat anda ingin memilih salah satu sistem operasi yang mana pada komputer tersebut terdapat dua sistem operasi atau lebih. Pada GRUB ini, tampilan awal booting akan menampilkan daftar pilihan sistem operasi apa saja yang terinstall di komputer pada komputer anda.
  • Setelah itu, pilih “Continue” untuk melanjutkan proses reboot (restart system).

Untuk tampilan dibawah ini, pilih pada pilihan yang pertama “Debian GNU/Linux, with Linux 2.6.32-5-686” untuk memilih sistem operasi Linux yang telah selesai diinstal dan tunggu sampai muncul tampilan login system.

Tampilan Login sistem.

Tampilan VirtualBox yang sudah terdapat debian tersimpan.

Jika telah selesai, maka akan menampilkan virtualBox seperti gambar diatas. Jadi bagaimana? Menarik dan mudah bukan!

Karena Debian ini sangat mudah dan cocok digunakan untuk pemula, mari kita terus berkarya dengan menggunakan pedoman tutorial yang telah ada. Terimakasih dan goodluck!

Created by : Siti Aminah, Amrullah

Sumber Gambar