Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, M.Sc. (Guru Besar IPB)

Latar Belakang

Ilmu mutlak diperlukan untuk kehidupan, karenanya keberadaan ahli ilmu (ilmuwan/ulama) yang senantiasa  menuntut dan menebar ilmu mutlak diperlukan. Dengan ilmu manusia dapat membedakan dengan jelas yang baik dari yang buruk, yang benar dari yang salah, yang prioritas dari yang kurang prioritas. Ilmuwan adalah penjaga kebenaran pada ilmunya. Salah satu karya besar yang sangat diharapkan dari ilmuwan adalah tulisan ilmiah.

“Ilmiah” adalah kata sifat dari “ilmu” (“science”) yang berasal dari bahasa Latin  scientia yang berarti pengetahuan (knowledge) atau mengetahui (knowing)[1]. Dengan demikian sebagai suatu proses, kata “ilmu” diartikan sebagai suatu upaya sistematik  untuk menggali pengetahuan baru, menambah atau menyempurnakan  pengetahuan yang sudah ada yang disertai dengan bukti kebenarannya. Suatu tindakan (proses) yang memenuhi karakteristik keilmuan disebut sebagai tindakan ilmiah (scientific action)[2], dan hasilnya adalah suatu karya ilmiah.

Pengetahuan dihasilkan dari suatu proses riset atau penelitian yang dilakukan sesuai kaedah-kaedah ilmiah mulai dari tujuan riset, hasil dan manfaat yang diharapkan, landasan teori dan hasil-hasil riset terdahulu yang terkait sebagai rujukan, metodologi riset, hasil dan pembahasan serta kesimpulan dan rekomendasi untuk tindak lanjut hasil riset.

Tulisan karya ilmiah adalah salah satu bentuk luaran dari kegiatan riset. Mustahil suatu karya ilmiah dapat dituliskan sebelum riset dilakukan. Menghasilkan suatu tulisan karya ilmiah merupakan suatu rangkaian proses yang diawali dan dilandasi dengan niat dan etika mencari kebenaran dan bukan mencari pembenaran. Esensi dari pencarian kebenaran adalah kejujuran, kesungguhan, dan kecerdasan. Sebagai pencari atau pemburu kebenaran diperlukan landasan filosofi (berasal dari penggabungan dua kata Yunani philein yang artinya “suka” dan sophia yang artinya “hikmah” atau “kearifan”) yang artinya “suka kearifan” (Nasoetion 1999).

Salah satu faktor kritis yang menimbulkan kesulitan dalam penulisan karya ilmiah adalah tidak diawalinya rangkaian riset dengan niat dan sikap kejujuran, kesungguhan dan kecerdasan dalam upaya untuk menggali pengetahuan. Hal ini memicu berbagai pelanggaran, penurunan dan perusakan mutu  karya ilmiah, walaupun kenyataanya karya ilmiah tersebut dihasilkan oleh peneliti yang berpendidikan formal. Hal ini dapat menyebabkan pegeseran dari pencari kebenaran ke pencari pembenaran (uang, popularitas, jabatan ) melalui produk karya ilmiahnya dengan jalan pintas dan ala kadar.

Tulisan ini mencoba memberikan penjelasan strategi penulisan karya ilmiah pada dimensi holistik maupun dimensi metodologik.

Tulisan Karya Ilmiah adalah Rangkaian Premis

Tulisan ilmiah yang dihasilkan riset adalah kumpulan terangkai dari pernyataan-pernyataan kebenaran (premises) mulai dari bagian latar belakang dan tujuan riset, telaah pustaka, metodologi, hasil dan pembahasan serta kesimpulan dan rekomendasi. Pernyataan kebenaran (premis) tersebut harus dapat dibuktikan kebenarannya yang menjadi tanggung jawab moral dan intelektual penulisnya (Saefuddin 2002).

Perlu dicatat bahwa rangkaian pernyataan kebenaran tidak serta merta menjadi syarat cukup bagi suatu karya ilmiah. Rangkaian pernyataan kebenaran tersebut harus  diekspresikan dengan sistematika penulisan yang baik dan benar yang mencakup penentuan struktur format tulisan,  pemilihan penggunaan kosakata, gramatika, dan simbol (narasi atau grafis), penyusunan aliran dan keterkaitan logika yang baik dan benar sehingga mudah untuk dipahami substansinya oleh pembaca.

Untuk itu karakteristik ekspresi pernyataan kebenaran ilmiah adalah sebagai berikut:

  • Eksplisit : dinyatakan secara jelas dengan pengertian yang utuh dan benar.
  • Sahih (absah) : memiliki keabsahan yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
  • Komunikatif : mudah dipahami oleh pembaca yang ditargetkan bahkan oleh umum.
  • Konsisten : tidak mengandung kontradiksi dalam arti, definisi, simbol, dan kosakata yang digunakan.
  • Efisien : singkat, padat, tidak berulang dalam mengungkap suatu maksud atau arti.
  • Inovatif : ada pembaharuan dalam beberapa aspek riset, tujuan, metodologi, aplikasi atau konklusi, implikasi atau rekomendasinya.
  • Baku : menggunakan kosakata, simbol, diagram, satuan, terminologi baku (standar) yang dimengerti secara universal.
  • Etis : jujur, santun, dan menghormati kode etik ilmiah.

Dari uraian di atas dapat disarikan bahwa tulisan ilmiah adalah ekspresi tertulis yang komunikatif, sistematik dan terstruktur dalam mengungkap dan menyampaikan temuan ilmiah yang utuh dan benar kepada pembaca yang ditargetkan atau pembaca umum secara efisien dan terhormat.

Memulai Menulis Karya Ilmiah

Tidak selalu mudah untuk memulai menulis suatu karya ilmiah. Disamping kendala membangun semangat (getting in the mood), beberapa kendala yang umum terjadi adalah keterbatasan kemampuan dan pengalaman menulis, keterbatasan akses pustaka, keterbatasan dalam membaca karya tulis ilmiah, belum memiliki model panutan penulis dan karya tulis ilmiah. Semua kendala tersebut menyebabkan kesulitan dalam menentukan tema atau topik yang justru menjadi landasan awal dalam menyusun keseluruhan struktur dan isi suatu karya tulis ilmiah yang terfokus dan inovatif.  

Tuntunan yang dapat direkomendasikan dalam memulai menulis karya ilmiah adalah:

  • Membangun semangat menulis dengan meluruskan niat, membulatkan tekad dan menyempurnakan ikhtiar.
    • Memperbanyak membaca karya tulis ilmiah, khususnya di bidangnya.
    • Melihat peta perjalanan (road map) riset di bidang yang diteliti atau bidang lain yang terkait.
    • Mencari model penulis ilmiah yang menjadi idola, terutama yang reputasinya dikenal luas (Alley 1998).
    • Mencari beberapa contoh gaya (style), format dan struktur tulisan karya ilmiah yang sesuai dengan bidang dan jenis riset, target pembaca, dan wadah publikasinya (Alley 1998).
    • Mengumpulkan bahan pustaka yang terkait dengan risetnya.

Sumber Gambar