Pernahkah kamu bertanya mengapa beberapa aplikasi asisten digital menggunakan suara wanita sebagai pemandu? Memang sangat jarang bahkan hampir tak pernah terdengar suara komputer menggunakan suara laki-laki. Seperti Apple (Siri) mengunakan nama seorang wanita dari Norwegia yang dikenal oleh Dag Kittlaus, pengembang sekretaris pengenalan suara. Sekretaris kecerdasan pribadi Microsoft mengutip nama Cortana dari nama salah satu karakter wanita yang ada di video game ‘Halo’. Sekretaris pengenalan suara Amazon juga menggunakan nama wanita, yaitu Alexa.

Apa alasan dari penggunaan suara wanita tersebut? Hal ini dikarenakan suara wanita lebih nyaman di dengar dari pada suara laki-laki. Untuk membuat teknologi AI yang asing ini menjadi ‘kurang mengancam’ dan lebih ramah, para insinyur menempatkan suara perempuan di AI dan memberikan sifat feminim pada mereka. Akan tetapi, AI yang menggunakan nama wanita kebanyakan mempertimbangkan semua fungsi sekretaris dan beberapa menganalisis bahwa presepsi peran gender tercemin di dalamnya.

Prof. Michelle Habell-Pallan dari Departeman Kajian Wanita di Universitas Washington, Geekwire mengatakan bahwa “Walaupun tidak berarti jelek, pemberian sifat feminim pada AI memiliki implikasi serius. Ini masalah tentang penguatan stereotip.” Dalam acara kuis yang mengadu manusia dengan AI dalam berbagai bidang, seperti memasak, obat-obatan, dll, IBM justru menggunakan nama laki-laki, yaitu Watson. Selain itu akhir-akhir ini firma hukum Braker Hostetler di Amerika memasukkan nama AI dangan nama laki-laki,yaitu Ross. Ross adalah pengacara AI pertama untuk meninjau big data dan memberikan nasihat hukum.

AI yang fungsinya sama seperti pekerjaan sekretaris menggunakan nama wanita. Sedangkan AI yang memiliki kemampuan tinggkat tinggi untuk bersaing menggunakan nama laki-laki. Profesor Clifford Nass dari Departemen Komunikasi Universitas Standford mengatakan bahwa ini adalah keunggulan laki-laki yang tercermin dalam AI. “Orang-orang menganggap jawaban yang dikeluarkan oleh suara laki-laki adalah sebuah otoritas, sedangkan suara wanita dianggap sebagai penolong. Kita ingin teknologi untuk membantu kita, tetapi di saat yang sama kita juga ingin mendominasi teknologi. Jadi, kita lebih banyak menggunakan interface wanita.” Hal ini juga menujukkan bahwa industry IT yang berorientasi pada laki-laki, menggunakan wanita sebagai intinya dan tercermin dalam
nama AI.

Profesor Kathleen Richardson dari Universitas College London sekaligus penulis ‘An Anthopology of Robots an AI: Annihilation Anxiety and Machines’ menunjukkan bahwa robot humanoid yang bentuknya mirip tubuh manusia, sebagian besar adalah laki laki. Alasannya adalah karena sebagian besar insinyur yang mengembangkan AI adalah laki-laki. “Saya melihat bahwa ini adalah cerminan gagasan bahwa laki-laki menganggap wanita bukan sebagai manusia yang seutuhnya. Wanita juga bisa menjadi AI, tapi robot AI yang canggih haruslah laki-laki.

Akibat ketidakseimbangan gender yang jelas dalam teknologi dan asisten suara. Kini hadirlah Q, suara tanpa gender pertama di dunia, berharap untuk menghapus bias gender dalam teknologi. Dibuat oleh sekelompok ahli bahasa, teknologi, dan perancang suara, Q berharap untuk “mengakhiri bias gender” dan mendorong “lebih banyak inklusivitas dalam teknologi suara.” Pada awalnya, agensi kreatif Virtue bekerjasama dengan Anna Jørgensen, seorang ahli bahasa dan peneliti di Universitas Copenhagen, untuk mendefinisikan apa yang dimaksud dengan suara netral-gender. Mereka kemudian merekam suara orang-orang ‘non-binary’ dengan parameter suara 145 Hz ke 175 Hz, sehingga membuat sulit diterka apakah suara wanita atau pria.

Q diluncurkan pada 11 Maret 2019 di SXSW di Austin, Texas. Meskipun kerangka kerja AI belum dikembangkan untuk menggunakan suara tanpa gender dalam praktik, Virtue dan Copenhagen Pride sedang berupaya mengimplementasikannya di seluruh spektrum teknologi. Mereka berharap menemukan tempat untuk Q hadir tidak hanya dalam produk produk bantuan suara tetapi juga sebagai suara untuk stasiun metro, permainan, teater dan seterusnya. Tentunya kehadiran Q tidak hanya menantang stereotip gender, tetapi juga mendorong banyak perusahaan teknologi untuk mengambil tanggung jawab sosial dalam hal keragaman dan inklusivitas.

REFERENSI
[1]. https://www.ttimes.id/view.html?no=2018010620497738454

[2]. https://www.whiteboardjournal.com/ideas/design/q-suara-tanpa-gender-pertama-di-
dunia-untuk-teknologi-dan-asisten-suara/

Created by: Celine Mutiara Putri, Misratul Iffa

Sumber featured image