Author : Trio Laksono

Adviser : Mustakim, ST., M.Kom

Abstract :

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti, ditandai dengan demam 2–7 hari dan penurunan jumlah trombosit. Angka pesakitan DBD di Kabupaten Bengkalis sangat tinggi sehingga pada Tahun 2014 Bengkalis ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa DBD. Dinas Kesehatan Bengkalis sudah melakukan upaya-upaya pencegahan, namun kasus DBD masih saja terus terjadi dan menimbulkan korban jiwa. Untuk itu maka diperlukan sebuah prediksi yang bisa dijadikan acuan untuk menangani kasus DBD di masa mendatang. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk melihat angka kenaikan kasus DBD Tahun 2016 dan mengimplementasikan hasil prediksi kedalam sistem. Metode prediksi yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode Markov Chain. Metode ini membandingkan data DBD pada keadaan sebelumnya dengan keadaan sekarang secara diskrit maupun kontinyu. Hasil yang didapat dalam penelitian ini ialah prediksi kasus DBD Kabupaten Bengkalis pada Tahun 2016, dan juga sebuah sistem informasi prediksi DBD. Angka prediksi yang diperoleh untuk tahun 2016 ialah sebesar 343 kasus. Berdasarkan hasil prediksi yang dilakukan, diketahui bahwa kasus DBD di Kabupaten Bengkalis mengalami peningkatan pada Bulan Januari 2016 kemudian mengalami penurunan pada Bulan Februari 2016.

Kata Kunci : Bengkalis, Demam Berdarah Dengue, Markov Chain, Prediksi, Sistem Informasi.

Conclusion :

Kesimpulan pada penelitian ini ada 3, yaitu:

  1. Berdasarkan hasil prediksi menggunakan Markov Chain, kasus DBD Kabupaten Bengkalis mengalami peningkatan pada awal Tahun 2016, yaitu Kecamatan Bengkalis 14 kasus, Kecamatan Bantan 9 kasus, Kecamatan Bukit Batu 5 kasus, Kecamatan Siak Kecil 15 kasus, Kecamatan Pinggir 4 kasus, Rupat 0 kasus, Kecamatan Mandau 13 kasus dan Kecamatan Rupat Utara 1 kasus. Sedangkan untuk keseluruhan Tahun 2016 kasus DBD mengalami penurunan dibandingkan dengan Tahun 2015. Prediksi kasus DBD Kabupaten Bengkalis Tahun 2016 tiap pulau yaitu Pulau Bengkalis 132 kasus, Pulau Rupat 2 kasus dan Pulau Sumatera 209 kasus.
  2. Pada sistem informasi prediksi DBD diterapkan model prediksi perbulan karena memiliki error terkecil dibanding metode prediksi pertahun dan perdua bulan. Hasil prediksi ini terbukti bisa diimplementasikan untuk melakukan prediksi kasus DBD Kabupaten Bengkalis.
  3. Metode Markov Chain kurang cocok digunakan untuk prediksi kasus DBD karena data time series DBD saja tidak bisa digunakan untuk prediksi. Ini disebabkan kasus DBD terjadi karena banyak faktor luar yang memengaruhi

Sumber Gambar