Author: Mustakim, Agus Buono, Irman Hermadi

Publish: Scoring Jurnal Teknologi Keputusan Industri Penentuan Pertanian Pusat Pengembang

Abstrak:

Berdasarkan undang-undang energi, pemerintah diwajibkan untuk mengembangkan energi alternatif berbahan baku kelapa sawit. Hal senada juga diamanatkan sebagai bentuk pemerataan pembangunan energi untuk setiap wilayah dalam bentuk pengambilan keputusan. Metode Simple Additive Weighting mampu memberikan solusi terbaik dalam menentukan keputusan sebagai penentu pusat pengembang energi terbarukan. Hasil keputusan diperkuat dengan metode Weighting Product yang dapat menormalkan bobot hingga mencapai nilai mutlak sama dengan 1 yang dihasilkan berdasarkan eigen metode Analytical Hierarchy Process (AHP), alternatif terpilih yaitu Bagan Sinembah sebesar 0,8090 dengan persentase 25% dari 5 alternatif. Selain itu untuk menelusuri kemungkinan alternatif yang tidak terpilih menjadi alternatif prioritas digunakan pengambilan keputusan secara berkelompok menggunakan metode K-Means Clustering. Perbandingan antara hasil keputusan dengan kriteria utama luas sektor perkebunan (LSP) dan hasil produksi perkebunan (HPP) memiliki trend terbaik dengan nilai kedekatan 2,45% pada cluster SAWP (Simple Additive Weighting Product) dibandingkan dengan trend data pada masing-masing cluster. Hasil akhir diperoleh bahwa kriteria utama LSP dan HPP bukanmerupakan kriteria dominan yang dapat mempengaruhi hasil mutlak keputusan final baik menggunakan SAW maupun WP. Potensi energi yang dihasilkan dari produksi kelapa sawit keseluruhan dengan menghitung limbah cangkang, serat dan tandan buah kosong akan menghasilkan 135% energi listrik yang dapat mengaliri wilayah Riau.

Kata kunci: analytical hierarchy process, energi terbarukan, k-means clustering, simple additive weighting, weighting product

Kesimpulan:

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan yang dilakukan berdasarkan kelompok-kelompok lebih efisien karena dapat menelusuri kemungkinan alternatif yang tidak terpilih menjadi alternatif prioritas untuk menyimpulkan hasil keputusan. Pada clustering K-Means berbeda nilai random mempengaruhi cluster yang dihasilkan. Pembobotan menggunakan nilai eigen metode AHP memiliki kemungkinan kecilperubahan disetiap hasil keputusan metode SAW dibandingkan dengan pemberian bobot preferensi secara langsung oleh pengambil keputusan. Selanjutnya metode WP mampu memberikan hasil maksimal untuk setiap keputusan dengan menormalkan total nila bobot sama dengan 1. Alternatif terpilih yaitu Bagan Sinembah sebesar 0,8090 dengan persentase 25% dari 5 alternatif. Demikian pula dengan kriteria utama LSP dan HPP bukan sebagai kriteria mutlak dan dominan yang dapat mempengaruhi hasil keputusan final baik menggunakan SAW maupun WP. Beberapa hasil membuktikan bahwa kriteria HPP terbesar menepati urutan ketiga hasil keputusan, demikian juga dengan LSP terkecil tetapi menempati ranking kedua dari hasil metode. Hubungan antara hasil keputusan dengan kriteria utama LSP dan HPP memiliki trend data terbaik dengan nilai kedekatan 2,45% pada cluster SAWP dibandingkan dengan trend data padamasing-masing cluster. Potensi energi yang dihasilkan dari produksi kelapa sawit keseluruhan dengan menghitung limbah cangkang, serat dan tandan buah kosong menghasilkan 135% energi listrik yang dapat mengaliri wilayah Riau.

Sumber Gambar