PENDAHULUAN

Kecerdasan Buatan (AI) adalah istilah umum yang mengacu pada teknologi yang mampu membuat mesin menjadi “cerdas.” Organisasi berinvestasi dalam penelitian dan aplikasi AI untuk mengotomatisasi, meningkatkan, atau mereplikasi kecerdasan manusia – analisis dan pengambilan keputusan manusia – dan profesi audit internal harus siap untuk berpartisipasi penuh dalam inisiatif organisasi dalam menerapkan AI.

Ada banyak istilah lain yang terkait dengan AI, seperti, deep learning (pembelajaran mendalam), machine learning (mesin yang mampu belajar), pengenalan gambar, pemrosesan bahasa alami, cognitive computing (komputasi yang mampu mengenali sesuatu), amplifikasi kecerdasan, peningkatan kognitif, peningkatan kecerdasan mesin, dan peningkatan kecerdasan. AI bukan hal yag baru. Menurut makalah diskusi McKinsey Global Institute’s (MGI) “Artificial Intelligence: The Next Digital Frontier“, gagasan AI sudah ada sejak tahun 1950 ketika Alan Turing pertama kali mengemukakan bahwa sebuah mesin dapat berkomunikasi dengan cukup baik untuk meyakinkan seorang manusia yang bertindak sebagai evaluator bahwa mesin tersebut juga adalah manusia. AI tak melulu berbentuk robot yang menyerupai manusia. Anda perlu mengetahui apa saja jenis teknologi yang tergolong AI. Pada dasarnya, ada 3 jenis, yaitu:

Symbol-manipulating AI

AI yang satu ini bekerja dengan simbol abstrak. Symbol-manipulating AI termasuk jenis yang paling banyak eksperimennya. Inti eksperimennya adalah manusia direkonstruksi pada tingkat yang hierarkis dan logis. Informasinya diproses dari atas, lalu bekerjanya dengan simbol yang dapat dibaca manusia/si pengembang, koneksinya abstrak dan hasil simpulannya logis.

Neural AI

Jenis AI satu ini sangat populer di kalangan ilmuwan komputer pada akhir 80-an. Dengan Neural AI, pengetahuan tidak direpresentasikan lewat simbol, tetapi lebih ke neuron buatan dan koneksinya ⎼ semacam otak yang direkonstruksi. Pengetahuan yang terkumpul nantinya dipecah menjadi bagian-bagian kecil (disebut neuron) dan kemudian dihubungkan serta dibangun menjadi kelompok-kelompok. Nah, pendekatan ini dikenal sebagai metode bottom-up yang bekerja dari bawah. Tidak seperti Symbol-manipulating AI yang pertama penulis jelaskan. Jadi, sistem sarafnya harus dilatih dan distimulasi supaya jaringan saraf bisa mengumpulkan pengalaman dan tumbuh supaya bisa mengumpulkan pengetahuan yang lebih besar.

Neural Networks

Neural Networks diatur ke dalam lapisan yang terhubung satu sama lain lewat simulasi. Lapisan paling atas adalah lapisan input, yang fungsinya seperti sensor. Sensor yang dimaksud adalah penerima informasi yang akan memproses dan meneruskannya ke sistem. Ada setidaknya dua sistem — atau lebih dari dua puluh lapisan dalam sistem besar — lapisan yang tersusun secara hierarkis. Lapisan-lapisan itu yang mengirim dan mengklasifikasikan informasi lewat koneksi. Di bagian paling bawah adalah lapisan output, yang umumnya sih punya jumlah neuron buatan paling sedikit.

Demikian juga agar mesin cerdas (bertidak seperti dan sebaik manusia) makan harus dibei bekal pengetahuan, sehingga mempunyai kemampuan untuk menalar. Untuk membuat aplikasi AI ada dua bagian utama yang sangat dibutuhkan:

• Knowledge Base
Bersifat fakta-fakta, teori, pemikiran, dan hubungan antar satu dengan yang lainnya.
• Inference Engine
Kemampuan menarik kesimpulan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman. AI mewakili serangkaian kemajuan signifikan dalam teknologi, namun ini bukanlah kemajuan yang pertama, dan sepertinya tidak akan menjadi yang terakhir. Melihat kembali pada beberapa dekade terakhir, kemunculan komputer, PC, spreadsheet, database relasional, konektivitas yang canggih, dan kemajuan teknologi serupa, semuanya mempengaruhi bagaimana organisasi beroperasi dan mencapai tujuan mereka. AI siap melakukan hal yang sama dengan potensi untuk menjadi atau lebih disruptive (menyebabkan perubahan) daripada banyak kemajuan teknologi sebelumnya.

AI dapat dipandang sebagai kemajuan signifikan terbaru dalam rangkaian kemajuan yang telah terjadi dalam perkembangan teknologi. Apa yang menjadi perkembangan terbaru adalah kemajuan dan skalabilitas teknologi yang membuat penerapan AI dapat dipergunakan secara praktis (practical).

Penerapan ini ditunjukkan secara terbuka kepada khalayak luas pada tahun 2011 saat platform AI milik IBM, yaitu IBM Watson, mampu menjadi pemenang dalam sebuah acara kuis Jeopardy!. Menurut IBM Research, IBM “dipandu oleh istilah ‘augmented intelligence‘ daripada ‘artificial intelligence‘, dan berfokus pada pengembangan aplikasi AI yang praktis dan dapat membantu orang-orang dalam sebuah tugas yang terdefinisi dengan baik.” Keahlian manusia dapat mengembangkan teknologi untuk membuat mesin cerdas, dan mesin yang cerdas, selanjutnya, lebih meningkatkan kemampuan manusia.

Dengan perkembangan teknologi dan semakin kencangnya arus pekerjaan, manusia membutuhkan bantuan tambahan dari AI selain dari sesama manusia. Mengutip content.wisestep.com, berikut ini keuntungan dari AI:

  1. Mengurangi Kesalahan
    AI membantu dalam memgurangi masalah dan peluang mencapai akurasi dengan tingkat presisi yang lenih timggi. Ini diterapkan dalam berbagai penelitian seperti eksplorasi ruang angkasa. AI diberi informasi dan dikirim untuk menjelajahi ruang angkasa. Karena mereka mesin dengan tubuh logam, mereka lebih tahan dan memiliki kemampuan yang lebih besar untuk bertahan dalam ruang dan atmosfer yang tidak bersahabat.
  2. Apliksi Medis
    Di bidang medis kita akan menemukan aplikasi AI. Dokter menilai pasien dan risiko kesehatannya dengan bantuan kecerdasan mesin buatan. Ini memberi mereka informasi tentang efek samping dari berbagai obat. Aplikasi populer AI adalah radiosurgery. Radiosurgery digunakan dalam operasi tumor dan ini bisa membantu dalam operasi tanpa merusak jaringan di sekitarnya.
  3. Tidak Kenal lelah
    Mesin tidak seperti manusia, tidak sering membutuhkan istirahat dan minuman. Mereka diprogram selama berjam-jam dan bisa terus mengerjakan tugas tanpa bosan atau terganggu atau bahkan lelah.
  4. Membantu dalam Eksplorasi yang Sulit
    AI dan ilmu robotika bisa digunakan dalam penambangan dan proses eksplorasi bahan bakar lainnya. Tidak hanya itu, mesin kompleks ini bisa untuk menjelajahi dasar laut yang memiliki tekanan yang kuat dan mengatasi keterbatasan manusia.
  5. Aplikasi Harian
    Sebagai aplikasi yang membantu setiap hari. Contohnya Apple memiliki Siri atau Cortana untuk membantu penggunanya. Orang juga mendapat bantuan sehari-hari dari AI seperti bantuan GPS. Smartphone merupakan contoh tepat tentang bagaimana orang menggunakan kecerdasan buatan setiap hari.
  6. Asisten Digital
    Perusahaan yang sangat maju menggunakan ‘avatar’ yang merupakan replika atau asisten digital yang benar-benar dapat berinteraksi dengan pengguna, sehingga menghemat kebutuhan sumber daya manusia.
  7. Membantu Pekerjaan Berulang
    Repeat job yang sifatnya monoton bisa dilakukan dengan bantuan AI. Mesin berpikir lebih cepat dari manusia dan dapat digunakan untuk multi-tasking. Parameter mereka tidak seperti manusia, mereka dapat disesuaikan. Pabrik minuman atau makanan kemasan banyak menggunakan AI untuk membantu pekerjaan berulang.

Penerapan AI sudah terjadi di berbagai sektor (publik, swasta, pemerintah, dan nirlaba) dan industri. Dibawah ini merupakan contoh dimana AI memungkinkan sejumlah kemampuan baru yang masih mustahil beberapa tahun yang lalu:

• Pabrikan otomotif mengembangkan kendaraan yang mampu menyetir sendiri (self-driving).
• Mesin pencari online yang mampu merekomendasikan hasil pencarian yang diinginkan.
• Media sosial mampu mengenali wajah dalam foto dan menyaring berita berita.
• Perusahaan media mampu merekomendasikan buku buku dan pertunjukan kepada para pelanggannya.
• Toko retail yang mampu membuat pengalaman online yang dipersonalisasi bagi para pelanggan.

Hingga saat ini, pengembangan dan penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari terus masuk ke berbagai sektor kehidupan. Mulai dari hal sederhana hingga hal yang cukup kompleks, keberadaan AI diorientasikan untuk dapat meringankan beban kerja manusia sehingga dapat meraih hasil yang lebih maksimal dalam setiap sektor yang ada. Proses panjang masih harus dilakukan untuk melakukan penelitian, pengembangan serta kajian. Alasannya sederhana, agar teknologi yang dikembangkan dan diterapkan kelak benar-benar bersifat membantu pekerjaan manusia dan bukan menggantikan manusia secara mendasar. Ini mengapa mungkin dalam prosesnya juga diperlukan tinjauan mengenai etika kecerdasan buatan sehingga tidak melenceng dari hakikatnya sebagai teknologi.

Artificial Intelligence dapat dikatakan sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi dapat memberikan banyak bantuan dalam kehidupan dan pekerjaan, namun di sisi lain dapat memberikan ancaman besar pada eksistensi manusia secara mendasar. Sebagai makhluk yang bijak dalam mengadaptasi teknologi, hendaknya kita harus mengambil sikap yang tepat dan tidak terburu-buru, agar adaptasi yang dilakukan dapat memberikan manfaat maksimal untuk manusia secara menyeluruh.

Original Create by Asdar Mustofa & Astia Weni Syaputri

Sumber Gambar