Author   : Richa Dwi Kusmiyanti, Mustakim

Publish  : Seminar Nasional Teknologi Informasi, Komunikasi dan Industri (SNTIKI) 8

Abstract :

Pada saat ini perkembangan data kelapa sawit di Provinsi Riau hanya dapat dilihat dari data yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) baik hardcopy maupun softcopy, yang disajikan secara statistik. Pihak BPS tidak menyediakan data analisis kelapa sawit yang dapat digunakan oleh Pemerintah untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Salah satu teknik pendukung keputusan dalam analisis kebijakan yang digunakan pada riset ini adalah Simple Multi Attribute Rating Technique (SMART). Dalam penentuan pembobotan metode SMART biasanya digunakan teknik pembobotan secara langsung. Nilai bobot pada pembobotan langsung masing-masing kriteria diberikan sesuai dengan kebutuhan yang bersifat subjektif sehingga dirasa kurang efektif. Namun, dalam penelitian sebelumnya penentuan pembobotan bisa dilakukan dengan teknik lain salah satunya yaitu Analytic Hierarchy Process (AHP). AHP merupakan suatu model pendukung keputusan yang menguraikan masalah multi kriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki. Dalam AHP terdapat sebuah nilai keputusan yang disebut dengan Eigen. Nilai eigen ini didapatkan dari pebandingan berpasangan kriteria dan bersifat objektif yang disubtitusikan sebagai nilai bobot pada metode SMART. Hasil perankingan menggunakan metode SMART bobot langsung memiliki nilai sensitivitas 0,5103, sedangkan SMART AHP memilki nilai sensitivitas 0,0274. Hal ini menunjukkan bahwa SMART AHP merupakan metode pembobotan terbaik karena memiliki nilai sensitivitas terkecil

Kata kunci: Analytic Hierarchy Process,Eigen, Kelapa Sawit, Pembobotan,Simple MultiAttribute Rating Technique

Conclusion :

Berdasarkan analisis dan pembahasan pada bab sebelumnya, perankingan kecamatan penghasil kelapa sawit pada penelitian ini diperoleh beberapa kesimpulan diantaranya adalah:

  1. Hasil penerapan metode SMART dengan bobot langsung dan AHP menunjukkan bahwa pembobotan terbaik yaitu teknik pembobotan AHP. Hal ini dibuktikan dengan hasil nilai sensitivitas terkecil SMART AHP yaitu 0,0274.
  2. Hasil perankingan metode SMART dengan bobot AHP dan dataset rata-rata 5 tahun menunjukkan wilayah yang paling potensial penghasil kelapa sawit. Wilayah potensial tersebut antara lain Tapung, Bagan Sinembah, Mandau, Pujud, dan Tapung Hulu.

Sumber Gambar