Author: Richa Dwi Kusmiyanti, Suliatun, Mustakim

Publish: Seminar Nasional Teknologi Informasi, Komunikasi dan Industri (SNTIKI) 9

Abstrak:
Indonesia merupakan negara produsen dan eksportir kelapa sawit terbesar didunia dengan luas areal perkebunan mencapai 11,30 juta Ha dan jumlah produksi mencapai 31,28 juta ton pada tahun 2015. Provinsi Riau merupakan provinsi penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia dengan jumlah produksi mencapai 7,33 juta ton dan luas areal perkebunan mencapai 2,4 juta Ha. Hal ini mengharuskan Pemerintah Nasional maupun Daerah mengambil kebijakan untuk mengantisipasi terjadinya penurunan produktivitas kelapa sawit. Salah satu teknik pendukung keputusan dalam analisis kebijakan yang digunakan pada riset ini adalah Simple Multi Attribute Rating Technique Exploiting Ranks (SMARTER). Pembobotan pada metode SMARTER menggunakan range antara 0 sampai 1, bobot dihitung menggunakan pembobotan Rank-Order Centroid (ROC). Pada penelitian sebelumnya, telah dilakukan perangkingan alternatif wilayah menggunakan metode Simple Multi Attribute Rating Technique (SMART) dengan membandingkan dua pembobotan yaitu langsung dan teknik Analytic Hierarchy Process (AHP) dengan kesimpulan bahwa teknik AHP merupakan teknik pembobotan terbaik karena memiliki nilai sensitifitas terkecil. Pada penelitian ini membandingkan antara metode SMARTER-ROC dengan metode SMART AHP dilihat dari nilai sensitifitas terkeceilnya. Hasil perangkingan metode SMARTER-ROC memiliki nilai sensitifitas yaitu 0,0011, sedangkan metode SMART AHP memiliki nilai sensitifitas yaitu 0,0274. Hal ini menunjukkan bahwa metode SMARTER-ROC lebih baik karena memiliki nilai sensitifitas terkecil.

Kata kunci: Analytic Hierarchy Process, Kelapa Sawit, Pembobotan, Simple Multi Attribute Rating Technique, Simple Multi Attribute Rating Technique Exploting Ranks

Kesimpulan:

Berdasarkan analisis dan pembahasan pada bab sebelumnya mengenai perangkingan kecamatan penghasil kelapa sawit didapatkan beberapa kesimpulan, yaitu :

  1. Hasil perankingan menggunakan metode SMART dengan bobot AHP dan dataset ratarata 5 tahun menunjukkan hasil perankingan wilayah yang paling potensial penghasil kelapa sawit. Hal ini dibuktikan dengan hasil nilai sensitifitas terkecil dengan nilai SMART AHP yaitu 0,0274 pada data set rata-rata tahun 2011-2015.
  2. Hasil perangkingan menggunakan metode SMARTER dengan pembobotan ROC dan dataset tahun 2015 menunjukkan hasil perangkingan wilayah yang paling potensial penghasil kelapa sawit. Hal ini dibuktikan dengan hasil nilai sensitifitas terkecil dengan nilai SMARTER yaitu 0,0011 pada dataset 2015.
  3. Metode SMARTER lebih baik dibandingkan metode SMART dengan pembobotan AHP, dilihat dari nilai sensitifitas SMARTER memiliki nilai sensitifitas yang lebih kecil yaitu 0,0011 untuk data 2015 dan 0,0013 untuk data rata-rata 2011-2015, dibandingkan dengan metode SMART dengan pembobotan AHP yang memiliki nilai sensitifitas yaitu 0,4465 untuk data 2015 dan 0,0274 untuk data rata-rata 2011-2015.

Sumber Gambar