Author : Richa Dwi Kusmiyanti

Adviser : Mustakim, ST., M.Kom

Abstract :

Kelapa sawit merupakan jenis tanaman perkebunan yang menduduki posisi penting dalam sektor pertanian umumnya, dan sektor perkebunan khususnya. Pada saat ini perkembangan data kelapa sawit di Provinsi Riau hanya dapat dilihat dari data yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) baik hardcopy maupun softcopy, yang disajikan secara statistik. Pihak BPS tidak menyediakan data analisis kelapa sawit yang dapat digunakan oleh Pemerintah untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Salah satu teknik pendukung keputusan dalam analisis kebijakan yang digunakan pada riset ini adalah Simple Multi Attribute Rating Technique(SMART). Dalam penentuan pembobotan metode SMART biasanya digunakan teknik pembobotan secara langsung.Nilai bobot pada pembobotan langsung masing-masing kriteria diberikan sesuai dengan kebutuhan yang bersifat subjektif sehingga dirasa kurang efektif.Namun, dalam penelitian sebelumnya penentuan pembobotan bisa dilakukan dengan teknik lain salah satunya yaitu Analytic Hierarchy Process(AHP). AHP merupakan suatu model pendukung keputusan yang menguraikan masalah multi kriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki. Dalam AHP terdapat sebuah nilai keputusan yang disebut dengan Eigen. Nilai eigenini didapatkan dari pebandingan berpasangan kriteria dan bersifat objektif yang disubtitusikan sebagai nilai bobot pada metode SMART. Hasil perankingan menggunakan metode SMART bobot langsung memiliki nilai sensitifitas 0,5103, sedangkan SMART AHP memilki nilai sensitifitas 0,0274. Hal ini menunjukkan bahwa SMART AHP merupakan metode pembobotan terbaik karena memiliki nilai sensitifitas terkecil.

Kata kunci : Analytic Hierarchy Process,Eigen, Kelapa Sawit, Pembobotan, Simple Multi Attribute Rating Technique

Conclusion :

Berdasarkan analisis dan pembahasan pada bab sebelumnya, perankingan kecamatan penghasil kelapa sawit pada penelitian ini diperoleh beberapa kesimpulan diantaranya adalah:

  1. Hasil perankingan menggunakan metode SMART dengan bobot AHP dan dataset rata-rata 5 tahun menunjukkan hasil perankingan wilayah yang paling potensial penghasil kelapa sawit. Hal ini dibuktikan dengan hasil nilai sensitifitas terkecil dengan nilai SMART AHP yaitu 0,0274 pada data set rata-rata tahun 2011-2015.
  2. Hubungan antara kriteria utama LSP dan HPP terhadap metode terbaik menunjukkan bahwa Kecamatan Kandis, Pangkalan Kuras, Tambusai Utara, Tapung Hulu dan Mandau adalah peringkat 5 teratas wilayah potensial penghasil kelapa sawit dengan nilai sensitifitas rata-rata berturut-turut 1,06%; 1,17%; 1,44%; 1,53% dan 1,56%.
  3. Hubungan antara kriteria pendukung JD, JP, KP, PKS, LW terhadap metode terbaik menunjukkan bahwa Kecamatan Pujud, Tambusai Utara, Tapung Hilir, Tapung Hulu dan Pangkalan Kuras adalah peringkat 5 teratas wilayah potensial penghasil kelapa sawit dengan nilai sensitifitas rata-rata berturut turut 1,66%; 1,87%; 1,91%; 2,01% dan 2,53%.
  4. Hasil kriteria utama dengan kriteria pendukung terhadap metode terbaik diperoleh kecamatan Tambusai Utara (5%), Kandis (6%), Pangkalan Kuras (6%), Tapung Hulu (6%) dan Tapung Hilir (9%) sebagai 5 wilayah paling potensial penghasil kelapa sawit.
  5. Perbandingan hasil keputusan dengan penelitian terdahulu oleh Mustakim (2015) menyatakan bahwa 5 wilayah potensial kelapa sawit yaitu Mandau,Tambusai Utara, Tapung, Pinggir dan Bagan Sinembah. Pada penelitian ini, 5 wilayah potensial yaitu Kecamatan Tapung, Bagan Sinembah, Mandau, Pujud dan Tapung Hulu.
  6.  Rekomendasi hasil penelitian yang diusulkan kepada pihak pemerintah terkait pembangunan wilayah penghasil kelapa sawit di Provinsi Riau yaitu, mengembangkan 5 wilayah yang paling potensial, memberikan peluang investasi dan mengembangkan produksi kelapa sawit serta membangun perusahaan kelapa sawit yang baru.

Sumber Gambar